๐Ÿ‘๏ธ Dilihat: 334.345 kali

 

 

 

Oleh: Dwi Hartoyo

Jumat, 17 Oktober 2025

Perjudian adalah musuh abadi bangsa ini. Ia bukan sekadar persoalan hiburan ilegal, melainkan penyakit sosial yang merusak moral, menghancurkan ekonomi rakyat kecil, dan menjerumuskan generasi muda ke jurang kegelapan. Ketika perjudian dibiarkan hidup di tengah masyarakat, maka yang lebih dulu mati adalah wibawa hukum itu sendiri.

Fenomena maraknya praktik togel di Kota Tebingtinggi adalah potret nyata bagaimana ketegasan hukum sedang diuji. Di atas kertas, aturan hukum kita jelas: perjudian adalah tindak pidana. Namun di lapangan, seolah hukum kehilangan suaranya โ€” kalah oleh bisik-bisik kepentingan, oleh rasa enggan untuk bertindak, atau mungkin oleh ketidakpedulian yang menahun.

Sebagai warga yang mencintai kota ini, saya merasa prihatin. Kepolisian, sebagai garda terdepan penegak hukum, seharusnya hadir dengan ketegasan dan keberanian. Di pundak aparatlah harapan rakyat dititipkan agar hukum tidak hanya menjadi teks di atas kertas, tapi nyata dalam tindakan.

Diam di hadapan pelanggaran hukum sama artinya dengan membiarkan luka sosial semakin dalam. Di tengah kesulitan ekonomi rakyat, perjudian justru menambah penderitaan: merusak rumah tangga, menguras harta, dan mematikan semangat kerja masyarakat kecil.

Tebingtinggi tidak boleh dikenal sebagai kota yang kalah melawan perjudian. Kita butuh figur kepolisian yang tegas, berintegritas, dan berani menindak tegas siapa pun yang bermain di wilayah abu-abu ini. Karena tugas penegak hukum bukan sekadar mengawasi, melainkan memastikan bahwa hukum benar-benar tegak di atas keadilan.

Saya percaya, masih banyak aparat yang bekerja dengan hati, menjunjung sumpah jabatan, dan menjaga kehormatan institusinya. Namun kepercayaan itu harus dibayar dengan tindakan nyata โ€” bukan dengan diam, bukan dengan pembiaran.

Sudah saatnya kepolisian menunjukkan keberpihakan yang jelas: berpihak kepada rakyat, bukan kepada praktik yang merusak rakyat.

Bangsa yang besar bukan diukur dari kekayaan alamnya, tetapi dari keberaniannya menegakkan hukum dan keadilan. Jika hukum kembali ditegakkan dengan nurani, maka Tebingtinggi akan kembali damai, dan kepercayaan rakyat terhadap aparat akan tumbuh kembali dengan sendirinya.